detak detik perubahan

IDHAM ANAK PETANI DESA

In Uncategorized on December 18, 2009 at 7:41 am

Idham alias ANDOL lahir di dusun Brohol, Desa Sei Bamban, Kecamatan Sei Bamban, Kabupaten Serdang Bedagai, pada tanggal 7 April 1961 dari pasangan suami isteri Haji Ilyas Lubis dan Hajjah Sabikem. Kedua orangtuanya adalah wong ndeso petani miskin. Dalam pergaulan sehari-hari ayahnya lebih dikenal dengan panggilan Lobe Lias. Almarhum pernah bekerja sebagai bilal di Perkebunan Paya Mabar. Sampai akhir hayatnya kedua orangtua Idham hidup sebagai petani yang tidak beruntung.

Idham adalah anak ragil (bungsu) dari 9 orang bersaudara. Saat ini dari 9 bersaudara itu yang masih hidup tinggal 5 orang, 4 orang di antaranya tinggal di dusun Brohol dan Tebing tinggi, masih bergelut di kubangan lumpur sebagai petani.

Sekolah Setinggi-tingginya
Menyaksikan kenyataan pahitnya hidup sebagai anak petani miskin, diam-diam Idham mempunyai niat untuk melanjutkan sekolah SMA di ibukota negara Jakarta. Niat ini dijalankannya tanpa pamit kepada keluarga, meninggalkan dusun Brohol pada tahun 1977. Menyadari kondisi Jakarta yang begitu tak bersahabat, Idham pun membatalkan niat melanjutkan sekolah di Jakarta itu. Mungkin satu di antaranya karena kepergian tanpa restu kedua orangtua, kenang Idham. Idham kembali pulang kampung.

Pada tahun 1978 Idham pamit kepada kedua orangtuanya untuk melanjutkan sekolah di Medan. Menyaksikan kehidupan kedua orangtua sebagai petani miskin dengan keihlasan yang tinggi kehidupan sekolah di Medan dijalani dengan hidup mandiri. Sebelum dan sepulang sekolah Idham menjajakan koran di pasar Sambu. Pekerjaan ini ditekuninya sampai tahun 1981. Tidak ada waktu yang tersisa bagi seorang Idham. Malam hari Idham menyempatkan diri memberikan privat less kepada siswa SMP, antara lain di Gang Mas Kampung Baru Medan. Pada hari-hari tertentu, terutama hari libur, Idham menjadi agen ticket pesawat di Bandara Polonia, yang modalnya dibantu oleh Trophy Travel yang beralamat di Jalan Brigjen Katamso Medan.

Bagi seorang Idham tiada hari tanpa menabung. Demikianlah motto hidupnya. Oleh karenanya setamat SMA Idham sudah mampu membeli sepeda motor butut merk Honda GL tahun 1981. Selain itu ia masih memiliki sejumlah uang tabungan yang dipersiapkannya untuk melanjutkan sekolah. Setamat SMA Idham diterima sebagai Pegawai di PT Telkom dan diterima pula sebagai mahasiswa di Fakultas Hukum USU.

Semboyan kemandirian Idham memang sudah dibuktikan dan dijalaninya sejak kecil. Seluruh jenjang pendidikannya dilaksanakan belajar dan sambil bekerja. Masa SD dan SMP sebagai buruh tani dan membantu orangtua di sawah. Ketika SMA berjualan koran, mengajar privat less dan menjual ticket pesawat. Ketika masuk jenjang perguruan tinggi di Fakultas Hukum USU juga sambil bekerja di PT Telkom.

Pada tahun 1986 Idham berumah tangga dengan Hajjah Haneda Lubis, S.Sos dan sekarang dikaruniai 3 orang anak 2 puteri dan 1 putera. Kedua puteri Idham sekarang sedang menyelesaikan pendidikan mereka sebagai calon dokter di Fakultas Kedokteran USU dan si bungsu Mhd Noer Ibrahim Lubis duduk di Kelas II SMA Negeri I Medan.

Pada tahun 1989 keinginan untuk kermbali ke kampus semakin menggelora, sambil bekerja di PT Telkom pada tahun itu Idham melanjutkan sekolah spesialis Notariat di Fakultas Hukum USU Medan dan lulus pada tahun 1993. Berhenti dari PT Telkom tahun 1995 adalah merupakan pertanggungjawaban seorang Idham dengan hidup mandiri yaitu. Ia beralih menjadi Notaris dan PPAT dan mendapat penempatan pertama di Kabupaten Dairi (Sidikalang). Pada akhir tahun 1998 di saat usainya gelombang reformasi, negara memutasikan Idham sebagai Notaris PPAT ke Kota Medan.

Dalam upaya mempertanggungjawabkan kemandirian itu pada medio tahun 2002 Idham melanjutkan penyetaraan program S-2 Ilmu Hukum dengan mengikuti pendidikan Magister Kenotariatan pada Sekolah Pascasarjana USU. Semangat ini terus berlanjut dan pada akhir tahun 2002 Idham diterima sebagai salah seorang mahasiswa Program S-3 Ilmu Hukum pada Sekolah Pascasarjana USU. Program doktor ini berhasil diselesaikannya dengan predikat lulus Cum Laude.

Pada tahun 2004 tepatnya pada tanggal 1 Oktober, demikianlah garis tangan yang ditorehkan oleh Gusti Allah seorang Idham anak petani miskin wong ndeso dari Kabupaten Sergai mendapat amanah dan kepercayaan dari masyarakat Sumut III untuk menjadi anggota DPR-RI periode 2004-2009. Terakhir Idham dipercaya untuk duduk sebagai salah seorang anggota Komisi IV DPR-RI yang membidangi Pertanian/perkebunan, Kelautan/perikanan, Kehutanan dan Bulog dan di samping itu Idham mendapat kepercayaan selama 5 tahun pengabdian di DPR-RI sebagai salah seorang anggota Badan Legislasi (Baleg) sebagai pusat pembentukan UU (Law Centre) di Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: