detak detik perubahan

Buku: MENGAPA SI MISKIN TERLUPAKAN?

In Uncategorized on December 20, 2009 at 6:02 pm

Pengarang : robert chambers jakarta : lp3es, 1987 resensi oleh : loekman soetrisno. PEMBANGUNAN DESA Mulai dari Belakang Pengarang: Robert Chambers Penerbit: LP3ES, Jakarta, 1987, 314 halaman PEMBANGUNAN pedesaan yang pada saat ini sedang giat dilakukan di negara berkembang semua bertujuan untuk memerangi satu musuh terbesar yang dihadapi rakyat desa: kemiskinan. Karena kemiskinan itu menimbulkan berbagai akibat sampingan yang menyebabkan kehidupan rakyat pedesaan penuh dengan penderitaan fisik maupun mental.

Seorang desa yang miskin akan tidak mampu membeli bahan makanan yang mengandung gizi. Tanpa makanan yang bergizi ia dan keluarganya akan rawan terhadap penyakit. Karena fisik sering terganggu penyakit, produktivitas kerjanya menurun. Karena produktivitasnya menurun, ia tak mungkin secara mandiri mengangkat dirinya dari kehidupan miskin itu.

Demikian pula kemiskinan membuat orang miskin tak mampu membiayai pendidikan anak-anaknya. Padahal, mereka melalui pendidikan dapat memperoleh kehidupan yang lebih baik daripada kehidupan orangtuanya. Dengan kata lain, kemiskinan itu membawa hidup orang miskin dalam suatu lingkaran setan kemiskinan. Untuk mengeluarkan kelompok miskin dari lingkaran setan kemiskinan ini, pemerintah negara yang sedang berkembang menciptakan usaha-usaha khusus untuk menolong mereka. Usaha itu, di antaranya, diciptakan melalui pembangunan pedesaan. Walaupun pemerintah negara-negara yang sedang berkembang berusaha, melalui pembangunan pedesaan, mengangkat kehidupan kelompok miskin di pedesaan, belum semua usaha itu berhasil.

Hanya ada tiga negara di dunia ini, yakni Cina RRC, Cina Taiwan, dan Korea Selatan, yang diakui dunia melalui pembangunan pedesaan mereka telah berhasil memerangi kemiskinan. Yang menjadi pertanyaan: mengapa negara-negara yang sedang berkembang belum berhasil? Suatu pertanyaan yang cukup “halal” menurut hemat saya, karena negara-negara tersebut telah cukup banyak mengeluarkan dana — baik yang berasal dari dalam negeri maupun berupa bantuan ataupun utang luar negeri, untuk membiayai pembangunan pedesaan.

Buku Robert Chambers merupakan suatu usaha untuk menjawab pertanyaan itu. Buku itu aslinya berjudul Rural Development: Putting the Last First. Suatu catatan penting dari kami adalah judul asli buku ini diterjemahkan keliru oleh penerjemahnya. Judul buku Chambers yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh LP3ES adalah Pembangunan Desa: Mulai dari Belakang. Kata the Last First tidak bermakna seperti yang diterjemahkan mulai dari belakang.

Tetapi apabila kita baca dengan teliti keseluruhan buku asli Chambers, jelas yang dimaksud dengan the last itu adalah kelompok miskin di pedesaan. Kelompok ini, menurut Chambers, adalah yang selalu berada pada “kedudukan paling belakang” baik ekonomi, sosial, maupun politik. Demikian pula sering dalam realita pembangunan pedesaan kelompok ini juga berada pada kedudukan paling belakang, dalam arti bahwa aspirasi mereka kurang memperoleh perhatian. Karena itu, dengan memberi judul bukunya Rural Development: Putting the Last First si pengarang ingin mengimbau pada kita semua, khususnya para perencana pembangunan pedesaan, agar menempatkan aspirasi kelompok miskin pada kedudukan pertama (first) dalam tiap usaha, khususnya pada pembangunan pedesaan, tempat sebaglan besar kelompok itu berada.

Apabila imbauan Chambers itu benar, apakah dengan demikian selama ini kedudukan kelompok miskin dalam proses pembangunan itu selalu di belakang? Dengan kata lain, apakah pembangunan pedesaan yang dilakukan pemerintah negara-negara yang sedang berkembang selama ini “melupakan” kelompok miskin di pedesaan? Chambers menjawab pertanyaan ini dengan ya (Bab 1, Kemiskinan Desa yang Terlupakan).

Menurut Chambers, kemiskinan di daerah pedesaan dan orang miskin di negara-negara yang sedang terbelakang tercecer jauh dari kemajuan-kemajuan lain yang dicapai oleh negara-negara yang sedang berkembang. Pada saat ini ada 800 juta manusia di negara yang sedang berkembang yang terperangkap dalam apa yang disebut oleh bekas presiden Bank Dunia, Robert S. McNamara, sebagai “kemiskinan mutlak”. Kemiskinan mutlak ini, menurut McNamara, adalah suatu kondisi hidup yang ditandai oleh kurang gizi, tunaaksara, wabah penyakit, lingkungan kumuh, mortalitas bayi yang tinggi, dan harapan hidup yang begitu rendah, seakan-akan tidak pantas untuk martabat manusia (halaman 1).

Kondisi hidup seperti ini sama dengan apa yang kami sebut di atas sebagai lingkaran setan kemiskinan. Kalau demikian halnya, pertanyaan selanjutnya adalah mengapa itu terjadi. Chambers dalam bukunya memberikan beberapa alasan. Yaitu, mengapa sampai kemiskinan di daerah pedesaan sampai terlupakan atau ia sebut dengan istilah unperceived. Alasan utama adalah adanya prasangka.

Ada enam prasangka atau bias yang disebut oleh Chambers sebagai penyebab mengapa kemiskinan di pedesaan menjadi terlupakan: (1) prasangka spasial, (2) prasangka proyek, (3) prasangka kelompok sasaran, (4) prasangka musim kemarau, (5) prasangka diplomatis, dan (6) prasangka profesional. Prasangka-prasangka itu dapat diartikan sebagai metode bagaimana informasi tentang orang miskin itu diperoleh baik para peneliti pedesaan maupun para perencana dan pelaksana pembangunan.

Kemiskinan pedesaan atau orang miskin di desa tidak terlihat di tepi jalan aspal yang mulus dekat kota. Juga tidak akan ditemui pada jalan besar desa atau di pojok desa tempat orang bertemu. Kemiskinan dan orang miskin di desa berada jauh dari jalan-jalan aspal atau jalan utama desa yang tak terlihat oleh peneliti maupun perencana serta pelaksana pembangunan. Karena pengumpulan data tentang desa biasanya berhenti di tempat sepanjang lalan utama desa itu.

Orang-orang yang dihubungi dan didatangi oleh para peneliti dan perencana pembangunan pedesaan adalah bukan miskin di suatu desa. Yang didatangi adalah kepala desa, petani maju, dan lain-lain — tetapi bukan orang miskin. Informasi dari orang-orang ini yang sering dianggap “data” yang penting dalam persiapan bentuk merencanakan suatu proses pembangunan desa. Logis apabila pembangunan pedesaan kemudian “melupakan” si miskin. Di samping adanya prasangka-prasangka tersebut, persepsi “orang luar” (atau para peneliti dan perencana pembangunan) yang keliru terhadap orang miskin menyebabkan persoalan kemiskinan di pedesaan menjadi lebih unperceived.

Orang luar selalu melihat bahwa orang miskin itu miskin karena mereka bodoh dan malas. Tetapi data empirik membuktikan, tak mungkin orang miskin itu bodoh dan malas sebab untuk survive justru mereka harus cerdik dan ulet. Amati, umpamanya, pola kerja kelompok gelandangan. Mungkin, mereka lebih kerja keras daripada seorang pegawai negeri yang merencanakan pembangunan pedesaan. Chambers memberikan alternatif untuk membuat pembangunan pedesaan lebih berorientasi pada aspirasi kelompok miskin. Alternatif itu adalah mengajak kelompok miskin dalam proses perencanaan.

Pertanyaan yang muncul: dapatkah kelompok miskin dilibat dalam proses pembangunan, tanpa diberi hak atau peluang untuk mengorganisasikan diri mereka dalam suatu organisasi politik yang mandiri? Kita dapat menghilangkan keenam prasangka, mengubah persepsi kita dari sebab kemiskinan itu. Tetapi apabila kelompok miskin di pedesaan tak diizinkan mengorganisasikan diri mereka dalam organisasi politik, mereka akan tetap terlupakan. Loekman Soetrisno [sumber: Majalah TEMPO 41/XVII 12 Desember 1987]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: